Kota Jambi, Wartapembaruan.co.id - Tata ruang di Kota Jambi jauh dari tepat guna. Alih fungsi lahan, buruknya drainase dan minimnya ruang terbuka hijau untuk resapan air membuat wilayah ini rentan terhadap bencana banjir.
Pemanfaatan tanpa pengendalian tata ruang, banjir akan terus membayangi kehidupan warga ketika hujan deras menggenangi, seperti yang terjadi pada akhir Maret 2025. Hujan deras di Kota Jambi menyisakan kisah pilu, yang seharusnya itu menjadi moment warga untuk bisa merayakan suka cita di hari raya idul fitri, mereka harus menerima pahitnya dampak dari pengelolaan tata ruang yang buruk, sehingga ribuan rumah dibeberapa kecamatan Kota Jambi harus tenggelam dalam raya kali ini.
Belum lagi karena peristiwa ini, warga juga mengalami kerugian finansial. Perabotan dan bangunan mereka hancur, terendam dalamnya air. Juga dalam sektor UMKM dan akses menjadi lumpuh, masyarakat tidak bisa beraktivitas, berapa besar total kerugian jika dihitung dalam hal ini?
Bukan hanya itu, bencana banjir di Kota Jambi kali ini sampai memakan korban jiwa. Warga Kebun Handil, Jelutung 'Syaiful, meninggal dunia tertimpa reruntuhan akibat banjir dan dua orang lagi 'Andi dan 'Deni mengalami luka di bagian kepala.
Terhadap persoalan Banjir ini 'Perkumpulan Hijau melalui Koordinator Advokasi & Kampanye 'Oscar Anugerah menyampaikan, kami sedang melakukan analisis terkait banjir di Kota Jambi ini.
"Berdasakan hasil analisis sementara, kami menilai bahwasanya penyebab banjir yang terjadi di kawasan lampu merah simpang Mayang dan sekitarnya, merupakan akibat dari alih fungsi lahan yang dulunya merupakan area tampungan air sementara/area resapan, yang kini sudah berubah menjadi bangunan (JBC dan Jamtos).
Selain itu, Oscar mengatakan buruknya tata kelola Drainase di kawasan Kota Jambi juga menjadi soal. Kenapa begitu?
"Kita bisa lihat, berdasarkan dari sudut elevasinya, bahwasanya area JBC dan Jamtos merupakan daerah dataran rendah /cekungan, untuk wilayah Simpang IV Sipin dan sekitarnya yang secara fungsi alami wilayah tersebut menjadi terminal sementara air yang mengalir dari drainase wilayah sekitar.
Kemudian jika debit air nya berlebih, maka air tersebut akan mengalir langsung menuju kawasan Danau Sipin melalui Sungai Kambang, Itulah kenapa secara alami area JBC menjadi huluannya Sungai Kambang (bisa cek di Peta). sekarang terminal air tersebut hilang, itu sebabnya Jika hujan sedikit saja area tersebut akan langsung banjir.
"Air secara alami mencari tempatnya sendiri, di mana dataran yang rendah kesana juga air mengalir, itu sebabnya rumah - rumah warga banyak yang terendam, termasuk juga fasilitas umum seperti Masjid dan lainnya. Sehingga warga yang sangat di rugikan dalam peristiwa ini.
Kita bisa simpulkan dalam persoalan ini bahwasanya 'Pemerintah Jambi salah urus pengendalian dan pemanfaatan Tata Ruang Kota Jambi.
"Sekarang ada momentum pemerintahan baru, kepemimpinan baru, bahwasanya untuk menyelesaikan persoalan ini, tidak bisa setengah-setengah. Oleh karena itu kami Perkumpulan Hijau meminta :
1. Bongkar JBC dan Kembalikan Fungsi lahannya menjadi Area Tangkapan Air.
2. Jamtos harus bertanggung Jawab untuk membangun area resapan air sebagai ganti dari area resapan yg mereka gunakan untuk lahan Parkir.
3. Evaluasi AMDAL Jamtos.
4. Evaluasi RTRW Kota Jambi.
5. Tegas dan tegakkan Peraturan Daerah mengenai Bangunan dan Drainase Kota Jambi.
Besar harapan tutup 'Oscar, pemerintah Jambi terkait banjir ini bukan hanya sekedar menyampaikan omong kosong, tapi dapat mengambil langkah konkrit dan merespon terkait perbaikan Tata Ruang dan memitigasi akan berulangnya bencana ini."