Oleh: Latifa Fahrun, mahasiswi jurusan bahasa mandarin dan kebudayaan Tiongkok. Universitas Al Azhar Indonesia.
Unboxing Tiongkok, dari namanya saja, sudah jelas kalau buku ini membuka kebenaran tentang Tiongkok, bukan lagi mengupas isu isu yang tidak jelas. Karena di media sosial, banyak sekali berita - berita yang menuding Tiongkok punya agenda jelek terhadap Indonesia, hingga image Tiongkok di kalangan milenial Indonesia cukup buruk.
Apalagi semenjak pandemic COVID – 19, banyak sekali prasangka – prasangka tidak berdasar yang bertebaran di media sosial Indonesia.
Tidak sebatas itu saja, bahkan di kalangan masyarakat luas ering kali dengan tanpa rasa bersalah, mengolok – olok Tiongkok. Contohnya beberapa waktu lalu adalah “Liburan Gratis ke Wuhan”, gurauan yang tidak patut dan menceminkan rendahnya kualitas moral orang Indonesia.
Tidak sebatas itu saja, bahkan di kalangan masyarakat luas ering kali dengan tanpa rasa bersalah, mengolok – olok Tiongkok. Contohnya beberapa waktu lalu adalah “Liburan Gratis ke Wuhan”, gurauan yang tidak patut dan menceminkan rendahnya kualitas moral orang Indonesia.
Sebaliknya dalam buku ini, dijelaskan bagaimana orang Tiongkok menggunakan media sosial.
Dimana, media sosial tidak digunakan untuk menyebar hoax, justru digunakan secara maksimal untuk berbisnis. Bukan mencaci maki pemimpin, tapi menghormati setiap pemimpin.
Tidak hanya ketika menyangkut Tiongkok, tapi semua yang berbau bau Tiongkok juga imbasnya sering kali dijadikan masalah oleh orang Indonesia.
Contohlah pengalaman saya sendiri yang mengambil jurusan Bahasa Mandarin dan Kebudayaan di Universitas Al Azhar Jakarta, sementara kampung saya di Padang, Sumatra Barat.
Karena berita – berita yang tidak jelas ini, dan kesalah pahaman orang Padang terhadap Tiongkok yang sudah mendarah daging, keikut sertaan saya mengambil jurusan Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok sudah dianggap bahwa saya ini nantinya pro Tiongkok dan sudah di wanti wanti " kamu akan menjadi ateis".
Tidak akan punya tuhan lagi. Ngerikan?
Saya juga ngeri dengarnya, tapi gimana lagi, begitulah media sosial kita lebih didengar daripada literatur dan bacaan bacaan yang jelas kredibilitasnya.
Sayangnya, buku soal Tiongkok yang isinya mengupas Tiongkok jaman sekarang relatif tidak ada.
Jadi kontras, yang buat berita jelek soal Tiongkok kecepatan 100 km per detik. Sementara yang menulis objektif dan fair dari sudut keindonesiaan kita, malah tidak ada. Mana bukunya?!
Nah, makanya buku yang baru launching ini, Unboxing Tiongkok, terkesan dijual terlalu murah jika dibanding dengan kelengkapan dan kualitas yang dikandung di dalamnya.
Didalamnya banyak informasi yang sulit sekali kita dapatkan dari media manapun, terutama media online. Semua informasi sudah dijabarkan secara jelas dan terarah dalam buku ini.
Misalnya tentang biaya produksi telepon seluler Apple buatan Tiongkok yang hanya 1% dari harga akhir. Misal harga ponsel adalah 100 – 1500 USD, biaya produksinya hanya 10 – 15 USD.
Dan dalam hal ini Tiongkok hanya mendapat keuntungan sekitar 5 persen, dan pihak AS mendapat keuntungan yang jauh lebih besar dari Tiongkok.
Media mana yang memuat informasi seperti ini?
Tidak hanya itu, bahkan tentang haluan negara dan bangsa Tiongkok menuju era keemasaan dan kejayaannya pada tahun 2050, yaitu menjadi negara sosialis yang modern dan besar juga disinggung di sebagian halaman buku.
Untuk mewujudkan mimpi ini, Presiden Xi Jinping percaya hanya akan terwujud jika Tiongkok melakukan rencana pembangunan dua tahap, yang dibagi menajadi 15 tahun pertama dan kedua. fokus Tiongkok dalam kedua tahapan tersebut mencakup kesejahteraan penduduk, pertahanan negara, pembangunan ekonomi, perdagangan luar negeri model baru.
Iya, “model baru”, dimana Tiongkok akan mentransformasi dirinya menjadi “Pedagang Berkualitas”.
Jangankan orang Tiongkok, saya saja tidak sabar menunggu hal itu terjadi. Melihat dari gaya berdagang Tiongkok, saya bisa menjamin, harga barang yang “Berkualitas” itu akan menyaingi harga merek luar negeri yang mahalnya tidak ketulungan.
Barang murah dan berkualiatas, siapa yang tidak mau?
Walaupun ditulis berdasarkan isu politik politik terbaru, pada dasarnya buku ini selalu menyinggung masalah karakter pribadi seseorang. Dimana pemimpin – pemimpin Tiongkok memiliki kecintaan yang amat dalam terhadap negerinya, dan mereka juga memiliki etos kerja dan karakter yang begitu baik.
Yang paling saya sukai adalah Zhu Rongji, si malaikat maut koruptor pada masanya. Membaca ketegasannya dalam memberantas korupsi di Tiongkok, hingga dengan rela menghukum mati orang yang dekat dengannya sekali pun.
Buku ini mengajarkan, bahwa untuk membangun bangsa, tidak hanya tentang seberapa hebat rancangannya atau seberapa hebat cara mencapainya, namun juga ditentukan oleh karakter dan etos kerja dari bangsa itu sendiri.
Di dalam buku ini ada satu kalimat yang masih terngiang dalam otak saya sampai sekarang, bahwa pada dasarnya cara dan tujuan Indonesia untuk maju tidak jauh berbeda atau malah sama dengan tujuan Tiongkok, bedanya orang Tiongkok melakukannya dengan konsisten, sedang orang Indonesia tidak.
Iya, artinya kita dan tiongkok tidak beda beda amat namun satu kata konsisten ini, memiliki pengaruh yang besar sekali.
Bagian lain menarik pada buku ini adalah pada bagian prolo, Sugeng Raharjo menyinggung tentang menjadi kaya dan menjadi seorang pegawai negeri.
Baginya penting untuk tidak berniat kaya jika ingin menjadi pegawai negeri. Karena, ini akan menumbuhkan sifat serakah yang akhirnya menjadi pemicu dari keinginan untuk korupsi.
Saya berpikir kalau semua orang pegawai pemerintahan, berpikir seperti pak sugeng.
Sudah lama, korupsi di Indonesia selesai dan tidak perlu lagi ada KPK.
Di dalam buku ini , rahasia keberhasilan Tiongkok menjadi negara yang begitu maju dikupas tuntas hingga ke akarnya.
Banyak sekali informasi detail dan pengetahuan tak ternilai yang dijabarkan satu demi satu.
Contohnya tiga tokoh yang dipercaya menjadi ujung tombak pencapaian Tiongkok, di antaranya Deng Xiao Ping dengan revolusi budaya, Zhu Rongji yang memberantas koruptor, dan Xi Jinping dengan sistem perdagangan dan teknologinya.
Tidak ketinggalan, pandemi COVID – 19 juga menjadi salah satu topik tersegar dari buku ini.
COVID-19 yang sudah kita jalani selama lebih dari satu tahun ini, dari awal sudah membawa banyak sekali isu miring tentang Tiongkok.
Mulai dari konspirasi pembuatan virus, niat merauk keuntungan oleh Tiongkok, hingga kata - kata yang mencemooh asal virus ini, tidak lain Wuhan, Tiongkok.
Masalah ini dibahas tuntas, bukan dari persepsi belaka, tetapi dengan bukti dan ajaran kedewasaan berfikir. Hal ini dibahasa dalam satu bab terakhir buku ini.
Mulai dari misteri asal usul COVID – 19, perlombaan untuk menemukan vaksin, perubahan hubungan antar negara hingga pengaruhnya pada perkembangan ekonomi dunia, semua dijelaskan satu demi satu.
Buku ini terlalu kaya dan menarik untuk dilewatkan, terutama bagi melenial.
Karena dalam 10 – 30 tahun ke depan milenial lah yang akan menjadi pengambil keputusan.Dengan membaca buku ini, maka kita bisa mengambil keputusan dengan tepat karena memahami perubahan yang sebenarnya sedang terjadi dan situasi dunia yang berimplikasi kepada kehidupan kita di sini.
Unboxing tiongkok, sangat rekomen di baca untuk para milenial